Jumat, 21 September 2018

ASSESMENT PEMBELAJARAN

  Assesment atau penilaian tidak bisa dilepaskan dengan peran guru sebagai tenaga pengajar.  Assesment termasuk salah satu indikator penentu untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan atau bahkan kegagalan yang dilakukan oleh guru atau dosen selaku agen pembelajaran dan siswa sebagai subjek pembelajaran, sebelum memilih metode yang tepat sasaran yang dianggap sesuai dengan kondisi pembelajaran yang ada sehingga untuk langkah selanjutnya efektifitas, efisiensi dan daya tarik pembelajaran dapat terselenggara dengan baik dan dapat menghasilkan keluaran belajar yang kompeten yang dapat membuat  assesment pembelajaran di sekolah tersebut bernilai positif, sesuai tujuan pendidikan nasional.
Bertolak dari ketentuan perundangan PP.No.19 tahun 2003, tentang Standar Nasional Pendidikan, yang menguraikan delapan standar mutu pendidikan yaitu, (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidikan dan kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian (assesment), maka kita dapat melihat bahwa standar penilaian (assesment) adalah ”standar penentu” bagi kesuksesan suatu proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa assesment (penilaian/evaluasi), merupakan indikator penting yang harus dikuasai oleh setiap guru atau dosen untuk mengetahui apakah seluruh standar tersebut berhasil atau gagal dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya, setelah diperoleh hasil assesment dari proses pembelajaran.
Dari assesment ini pula, kita dapat mengetahui apakah guru atau dosen sebagai perancang dan pengelola proses pembelajaran, telah memenuhi standar kualifikasi akademik yang dimaksud oleh PP. No.19 tahun 2005, dimana guru harus memenuhi empat standar kompetensi sebagai agen pembelajaran, yaitu standar kompetensi pedagogis, standar kompetensi kepribadian, standar kompetensi profesional, dan standar kompetensi sosial, yang membuat assesment pembelajaran di sekolah tersebut berkualitas.        
A.      Pengertian Assesmen dan Pembelajaran
           Assesmen yang dalam bahasa Inggris disebut dengan ”Assesment” mengandung makna taksiran/penaksiran, penilaian, penilaian keadaan, beban, pembebanan atau pemikulan. Menurut H.A.R Tilaar  assesment adalah alat tes untuk mengukur performan siswa dalam proses belajar. Salah satu contoh tes (assesment) yang menjadi industri besar di Amerika adalah test TOEFL (tes bahasa Inggris) yang digunakan untuk memasuki perguruan perguruan tinggi terkemuka di Amerika. Hal senada diungkapkan oleh Tardif (1989)  bahwa assesment adalah evaluasi terhadap proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai oleh siswa, sesuai kriteria yang ditetapkan, contoh  assesment di Indonesia salah satunya adalah UN (Ujian Nasional) yang dahulu dikenal dengan EBTANAS. Lebih lanjut Lefrancois (1982:336) mengemukakan bahwa assesmen adalah alat ukur/evaluasi, bagi guru/dosen untuk mengetahui, memonitor, merekam, mendorong, dan meningkatkan atau memotivasi prestasi siswa yang akan menjadi umpan balik bagi diri siswa sendiri untuk mengukur kelemahan dan kekuatannya dalam mengukur diri. Sedangkan Assessment menurut Hopkins & Antes (1990:31) adalah alat ukur/evaluasi, bagi guru untuk mengetahui kemajuan siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran”.  Lebih tegas lagi  Gagne & Briggs menjelaskan assesment adalah alat ukur keberuntungan guru dan siswa untuk mengevaluasi diri mereka sendiri (self assesment) dalam meningkatkan keberhasilannya dan inisiatif diri.
Dalam pendidikan assessmen sering dirangkai dengan kata pembelajaran           (Assesment Of Learning).  Pembelajaran menurut Reigeluth dan Degeng adalah  ”Upaya untuk membelajarkan siswa”. Morton & Macbeth seperti yang dikutip Beard & Senior (1980:76) mengungkapkan bahwa assesment of learning adalah evaluasi pada landasan psikologis yang dilakukan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu mengevaluasi diri, dimana guru dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dengan tahapan :
1.  Menjadikan alat evaluasi sebagai umpan balik.
2.  Memilih alat evaluasi yang objektif dan adil, dengan menginformasikannya kepada siswa,
3.  Memberi kesempatan siswa untuk mengevaluasi diri,
4.  Memberi kesempatan siswa untuk  mengevaluasi teman.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa assesmen dalam pembelajaran secara istilah adalah upaya penilaian untuk mengukur (keberhasilan atau kegagalan) suatu proses pembelajaran sekaligus sebagai umpan balik bagi guru dan siswa. Bagi siswa assessmen dapat dijadikan evaluasi dirinya sejauhmana mereka memiliki kompetensi setelah mengikuti proses pembelajaran. Bagi guru assessmen dapat dijadikan alat evaluasi yang objektif untuk mengukur sejauhmana  kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
B.       Kawasan Assesment dalam Pembelajaran
            Assesment sebagai alat evaluasi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pada tataran silabus, memiliki kompetensi dasar yang terfokus pada tiga kawasan/kategori ranah (domain), yaitu kognitif ( hal yang harus diketahui dan dipahami oleh siswa) , psikomotor (hal yang dapat dilakukan oleh siswa setelah memiliki pengetahuan) dan afektif (”sikap”siswa setelah proses pembelajaran diberikan). Proses evaluasi dalam pembelajaran sebagaimana yang diklasifikasikan oleh Bloom dan teman temannya (1956) melalui tahapan yang dimulai dari jenjang yang mudah ke jenjang yang sulit. Artinya evaluasi sudah berlangsung sejak awal (pre test) proses pembelajaran hingga akhir pembelajaran (post test) dan jenjang tahapan dalam klasifikasi Bloom adalah dimulai dari :
1. Pengetahuan (penyajian informasi,dimana siswa mampu mengulang apa yang diuraikan            guru/dosen).
2. Pemahaman (siswa menguraikan pesan / pengetahuan yang diterima dari guru dan   menguraikannya berdasarkan pemehamnnya/menambahkan atau mengkritisi).
3.  Aplikasi (Siswa mampu membuat diagram / pola atas informasi / pesan / pengetahuan yang diterima dari guru berdasarkan pemahamnnya sendiri,yang tentunya tidak keluar dari tujuan pesan tersebut).
4. Analisis (memecahkan pesan/ide/pengetahuan menjadi bagian kecil dan menunjukan hubungannya(keterkaitannya).
5.   Sintesis,menyatukan bagian bagian kecil pesan/ide/pengetahuan menjadi satu kesatuan.
6.  Evaluasi menjadi assesmen penilaian yang berdasarkan pada kriteria tertentu sesuai kondisi pembelajaran yang ada.
C.      Tujuan Assesment
Tujuan assesment dalam pembelajaran menurut Muhibbin, menjelaskan bahwa tujuan dari assesment adalah
1.      untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dan guru sebagai pembimbing dalam suatu kurun waktu proses belajar yang sudah ditentukan;
2.      untuk mengetahui posisi siswa dalam kelompok di kelasnya,sehingga guru dapat memberi test sesuai dengan kemampuan siswa;
3.    untuk mengetahui tingkat usaha siswa dalam upaya pembelajarannya;
4. untuk mengetahui sejauhmana siswa mengeksplorasi tingkat kecerdasannya dalam memahami pelajaran;
5. untuk mengetahui ukuran daya guna dan hasilguna metode yang diterapkan oleh guru selaku pembimbing.untuk mengetahui apakah metode yang diterapkan sudah sesuai dengan kondisi pembelajaran dan kondisi siswa yang ada dalam proses pembelajarannya.
D.      Fungsi  Assesment
            Fungsi assesment dalam pembelajaran adalah
1. Fungsi administratif dalam penyusunan nilai dan buku raport;
2. Fungsi promosi,untuk menetapkan tingkat kelulusan siswa;
3. Fungsi diagnostik,untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dalam belajar;
4. Fungsi data bagi BP(Bimbingan Penyuluhan);
5. Fungsi Pertimbangan , bagi pengembangan kurikulum di masa yang akan datang.
E. Syarat dan Ragam Alat Evaluasi sebagai Assesmen dalam Pembelajaran
       1. Syarat Alat Evaluasi sebagai Assesmen dalam Pembelajaran
Muhibbin menjelaskan bahwa persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik dalam perspektif psikologi belajar,meliputi dua macam yakni, (1) Reliabilitas, Tahan Uji dan dapat dipercaya konsistensi dan keajegannya.(diujikan kepada siapapun dan dalam masa yang berbeda, akan memberi hasil yang ”pasti”sama secara prinsip), (2) validitas, keabsahan dan kebenaran pengukuran yang dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, (sesuai dengan apa yang akan diukur/tepat sasaran). Lebih tegas lagi Suryabrata (1995:327) mengungkapkan bahwa syarat tes yang baik harus reliabel, valid, objektif, diskriminatif, komprehensif, dan mudah digunakan. Dengan demikian syarat terpenting dalam assesment pembelajaran adalah adanya indikator kompetensi pedagogi yang dimiliki oleh guru atau dosen selaku evaluator sehingga guru atau dosen sebagai agen pembelajaran mampu :
a.         Menggunakan berbagai cara / teknik penilaian.
b.         Menghargai karya siswa dan memajangnya.
c.         Memberikan penilaian atas semua aspek perkembangan siswa
(kognitif,afektif,psikomotorik).
d.        Menilai kegiatan siswa dalam pelaksanaan tugas belajar.
e.         Memberikan penilaian atas hasil yang dicapai.
f.          Melakukan penilaian formatif atas pembelajaran dan memperbaikinya
bila kurang efektif.
g.         Mengumumkan hasil penilaian siswa secara terbuka.
h.         Memberikan umpan balik dan penguatan atas kegiatan siswa.
i.           Mengumpulkan data perkembangan siswa.
j.           Melakukan analisis hasil penelitian.

2.  Ragam dan Teknik Assesmen dalam Pembelajaran
Dalam Ragam dan Teknik Assesmen Pembelajaran setiap pendidik baik dosen ataupun guru, harus memahami secara baik dan benar:
a.       Pengertian Evaluasi / assesmen dalam pembelajaran.
b.      Tujuan dari assesmen yang akan diberikan.
c.       Kriteria dasar bahan ujian.
d.      Mengenai soal yang bermutu ( soal yang shahih/valid dan
handal/reliable).
e.       Teknik dan Alat Penilaian sebagai berikut :
1)        Teknik Penilaian melalui Test (1.Test Tertulis/Test Objektif
dan Uraian , 2.Test Lisan, 3.Test Perbuatan).
2)        Teknik Penilaian melalui observasi atau pengamatan.
3)        Teknik Penilaian melalui wawancara.
f.       Langkah langkah penyusunan soal.
g.      Penentuan Materi yang akan dan harus diujikan.
h.      Penetuan Prilaku yang akan diujikan.
i.        Penetuan dan Penyebaran soal.
j.        Penyusunan kisi-kisi.
k.      Penyusunan butir soal.
l.        Teknik Penilaian sikap.
Dalam Buku Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan baru , Muhibbin menjelaskan bahwa ragam evaluasi terdiri atas beberapa bentuk test ,di antaranya adalah :
1. Pre test (diberikan guru pada setiap awal penyajian pelajaran) dan Post test (diberikan pada
setiap akhir penyajian pelajaran).
2. Evaluasi Prasyarat (appersepsi).
3. Evaluasi Diagnostik,yang diberikan setelah selesai penyajian,yang menitikberatkan pada bahasan tertentu yang membuat siswa kesulitan,untuk dibahas solusi pemahamannya.
4. Evaluasi Formatif,sejenis”ulangan” yang diberikan pada akhir penyajian satuan pelajaran atau modul.
5. Evaluasi Sumatif, sejenis ”ulangan umum” yang diberikan pada setiap akhir semester atau akhir periode pelaksanaan program pengajaran.
6. UN (Ujian Nasional),
            Dengan demikian para pendidik harus memahami tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran dan melakukan tahapan sebagai berikut sebagai bentuk evaluasi terhadap proses pembelajaran :
1.        Merumuskan indikator tiap kompetensi dasar
2.        Menyusun alat evaluasi.
3.        Menetapkan kegiatan belajar
4.        Merencanakan program kegiatan mengajar dengan memperhatikan materi isi pelajaran, memilih alat, metode serta menetapkan jadwal.
5.        Melaksanakan program(mengadakan pre test, menyampaikan materi, dan akhirnya mengadakan evaluasi/post test)
            Colin Rose, pakar accelerated learning, menjelaskan bahwa diri kita adalah hakim yang terbaik untuk menilai kemampuan dan kekurangan diri sendiri (self assesment).  Kita harus menguasai 8 kecerdasan yang ada pada diri kita dan siswa didik , sebelum membuat evaluasi/assesment ke arah tercapainya tujuan pembelajaran. Delapam kecerdasan itu adalah:
1.        Kecerdasan linguistik (berminat pada drama, pendengar yang baik, pembicara yang fasih,      pandai menjelaskan sesuatu, senang menulis)
2.    Kecerdasan matematis, logis (pemikir yang logis dan analisis).
3.    Kecerdasan visual/spasial (pengamat,penentuarah pemikiran,pembuat pola diagram yang teliti).
4.  Kecerdasan musikal(pendengar bunyi alam yang baik dan penghafal baik, penulis lirik atau musik yang baik).
5.    Interpersonal (mediator yang tangguh).
6.    Intrapersonal (eksklusif, penyendiri, penghayal).
7.    Fisik (bekerja dengan benda, senang bergerak,olahragawan).
8.    Naturalis (Pencinta alam,yang mampu menyebut nama jenis tanaman ,hewan dan pemerhati lingkungan yang baik).
Dalam membuat assesment pembelajaran, sebaiknya para pendidik memperhatikan tingkat kecerdasan siswa dan perbedaan yang ada dalam diri masing-masing siswa sesuai 8 kecerdasan yang tersebut. Pendidik juga harus mampu memotivasi siswa sehingga dapat memberikan hasil yang baik dalam melatih daya ingat dan menggali potensi kecerdasan mereka sebagaimana yang dijelaskan dalam penelitian Vernon dari Universitas Texas , yang dikutip oleh Colin Rose bahwa terdapat perbedaan persentase ingatan dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
1)   Belajar dengan Membaca akan menghasilkan daya ingat 20% saja
2)   Belajar dengan Mendengar akan menghasilkan daya ingat 30% saja
3)   Belajar dengan Melihat akan menghasilkan daya ingat 40% saja
4)   Belajar dengan Mengucapkan akan menghasilkan daya ingat 50% saja
5)   Belajar dengan Melakukan akan menghasilkan daya ingat 60% saja
6)   Maka Belajar dengan Membaca,Mendengar,Melihat,Mengucapkan,dan Melakukan akan menghasilkan daya ingat sebanyak 90% (Luar biasa).
           Penelitian Vernon yang tersebut di atas dapat kita sandingkan dengan ”Gaya Pembelajaran” Model Quantum Teaching dalam mengevaluasi pemahaman dan interaksi siswa dalam proses pembelajaran, yang dipaparkan oleh Bobby De Porter, Mark Reardon dan Sarah Singer Nourie dalam istilah TANDUR (singkatan kata dari, T= Tumbuhkan, A=Alami, N = Namai, D = Demonstrasikan, U = Ulangi, R = Rayakan ). T = Tumbuhkan minat siswa dalam pembelajaran, dengan AMBAK ( Apa Manfaatnya BAgiKu /siswa). Dalam hal ini guru memotivasi minat belajar Siswa untuk ikut memberi keputusan kepada tujuan pembelajaran yang akan dicapai). A = Ciptakan ”pengalaman” yang membuat siswa, merasa mengalami peristiwa yang disampaikan, untuk menumbuhkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran. N = Siapkan kata kunci untuk penamaan yang akan memudahkan daya ingat siswa. D = Demonstrasikan , sebagai entuk aplikatif dari pengetahuan/ide/pesan yang disampaikan guru.U = Ulangi , adakan tes formatif atau post test sebagai alat ukur pemahaman. R = Rayakan keberhasilan Proses Pembelajaran yang interaktif , efisien dan efektif, di antara guru dan siswa. G. ”10 Prinsip Assesment ”, untuk keberhasilan evaluator rofesional.
           Dalam membuat assesment/evaluasi/penilaian, pendidik harus memperhatikan dan menguasai sepuluh prinsip assesment , dengan melaksanakan tahapan-tahapan berikut ini :
a)      Pendidik harus membuat Perencanaan yang efektif bagi dirinya dan
anak didiknya.
b)     Assesmen harus terfokus pada siswa sebagai subjek pembelajaran
(student center).
c)      Assesment harus interaktif , Reflektif dan dapat dilaksanakan.
d)     Assesment adalah kunci ketrampilan Guru.
e)      Assesment adalah alat evaluasi yang sensitif dan Konstruktif terhadap
dampak emosi siswa.
f)      Assesment harus memperhitungkan Motivasi Belajar siswa.
g)     Promosikan tujuan belajar, dan libatkan siswa sebagai pengambil
keputusan.
h)     Assesment adalah Bimbingan Belajar sebagai upaya peningkatan mutu
pendidikan.
i)       Assesment akan membangun jiwa kepemimpinan(kemandirian) dan
kepekaan. siswa.
j)       Assesment harus sesuai dengan tingkat kecerdasan / kemampuan
siswa yang berbeda satu sama lainnya.
F.       Assesmen Alternatif
Penilaian alternatif menawarkan pada murid lebih banyak pilihan ketimbang ujian tradisional. Sebagai contoh guru bahasa Indonesia di sekolah memberi murid menu penilaian seperti menulis laporan tentang wawancara, menulis sendiri cerita atau mewawancarai tokoh. Penilaian demikian digolongkan dalam penilaian autentik. Artinya penilaian yang dilakukan guru mengevalusi pengetahuan siswa dalam konteks yang mendekati kehidupan nyata. Namun, dalam merancang atau memilih alat evaluasi guru  harus memperhatikan setidaknya tiga indikator sebelum assesment dalam bentuk evaluasi diberikan kepada siswa didik. Hal ini dimaksudkan untuk suksesnya proses pembelajaran. Tiga indikator tersebut adalah :
1.         Indikator kondisi yang ada di linkungan pembelajaran dengan terlebih dahulu memperhatikan tujuan dan karakteristik bidang studi, kendala dan karakteristik bidang studi, karakteristik peserta didik.
2.         Memilih metode pembelajaran yang dapat memenuhi standar kompetensi yang sudah diarahkan dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Metode pembelajaran yang digunakan harus berpijak pada empat komponen KTSP yaitu :
a)        Tujuan pendidikan sekolah
b)        Struktur dan muatan kurikulum (content), yang mencakup mata
pelajaran, muatan lokal, pengembangan diri, beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan dan kelulusan,penjurusan,pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
c)        Kalender Pendidikan
3.       Silabus dan RPP
Memilih assesmen alternatif yang sesuai dengan standar kompetensi dengan tidak mengabaikan indikator kondisi pembelajaran serta metode yang digunalkan dalam proses pembelajaran tersebut. Intinya, sebagai guru dituntut untuk dapat merancang sistem instruksional, merancang pesan, merancang strategi pembelajaran yang efisien dan efektif sehingga proses pembelajaran dapat memberikan assesment yang baik bagi masyarakat atas output yang dihasilkan oleh sekolah tersebut. Sebagai guru, untuk dapat mengelola proyek, sumber, sistem dan informasi tentang assesment pembelajaran, khususnya dalam menganalisis permasalahan di seputar assesment sekolah harus memiliki KSA yaitu :
1.      Knowledge : pengetahuan dan wawasan
2.      Attitude : Sikap yang baik sebagai seorang guru,dosen,atau manager lembaga pendidikan / kepala sekolah.
3.      Skill : Keahlian dalam menganalisa dan menyelesaikan permasalahan di seputar assesment dalam kualitas proses  pembelajaran.
Guru dituntut untuk mampu memilih dan menggunakan Alat evaluasi yang tepat dan bermanfaat dalam memberikan umpan balik yang bernilai positif bagi pendidik dan sekolah sehingga pada akhirnya assesment pembelajaran dari sekolah atau institusi dimana proses pembelajaran itu berlangsung dapat menjadi nilai plus bagi kualitas sekolah itu sendiri.dan beberapa hal yang harus diperhatikan dan dikuasai oleh para evaluator adalah dalam membuat alat evaluasi sebagai assesment tools diantaranya :
1.      Pembuatan Quiz
2.      Pembuatan assignment untuk siswa
3.      Pembuatan pre test dan post tes dalam berbagai tipe soal
4.      Self test bagi siswa
5.      Presentasi jawaban

Sehingga peserta didik (siswa didik) yang melaksanakan Evaluasi tersebut lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai test, baik pre test atau post test, test sumatif atau formatif, baik evaluasi yang dilakukan oleh evaluator dari luar maupun dari dalam,tidak akan menjadi faktor utama yang perlu dikhawatirkan dalam penilaian assesmen pembelajaran bagi hasil evaluasi mereka.

G.  Model Assesment Alternatif sebagai Pilihan Para Pendidik
          Assesmen Alternatif adalah pilhan yang tepat , karena pemilihan alat evaluasi sebagai unsur terpenting dan pamungkas dalam proses pembelajaran yang akan berpengaruh bagi assesment sekolah dan unsur yang terlibat di sekolah tersebut.dengan terlebih dahulu memperhatikan kondisi lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, melihat ketersediaan sarana dan prasarana (ketersediaan jaringan yang menjadi indikator penting bagi pembelajaran yang berbasis TIK). Assesmen Alternatif sebagai penilaian program atau proses pembelajaran harus dilandaskan pada tiga kawasan penidikan dalam taksonomi Bloom yaitu :
1. Landasan Kognitif : Penilaian atas prestasi pengetahuan dan wawasan
2. Landasan Afektif : Penilaian atas respon & sikap siswa setelah PBM
3. Landasan Psikomotorik : Partisipasi siwa dalam melaksanakan tugas.
           Dengan memperhatikan aspek kemampuan individu (self assesment) dalam delapan kecerdasan yang berbeda dan kemampuan kinerja kelompok (performance assesment) dalam wujud assesmen kinerja siswa dalam mengadaptasi test berbasis komputer,internet,maupun pembelajaran berjaringan atau pembelajaran multimedia,baik pre test maupun post test,test pilihan ganda yang diperluas, test jawaban terbuka, tugas individu, tugas kelompok, baik dalam bentuk wawancara, observasi, assesment portofolio ( dalam tahap persiapan,tahap pelaksanaan,dan tahap penilaian), proyek pameran, atau demonstrasi karya.
H.      Assessment Portofolio
           Assesment portofolio adalah penilaian terhadap kumpulan berkas sebagai bukti fisik setiap aktivitas siswa selama dan sesudah pembelajaran, bisa berupa dokumen hasil tes, tugas-tugas, hasil karya, catatan tentang sikap-minat, ketrampilan, dan kompetensi siswa. Assesment ini adalah salah satu bentuk penilaian autentik yang diadaptasi secara luas di sekolah-sekolah saat ini. Diane Hart mendefinisikan portofolio sebagai "sebuah wadah yang memegang bukti keterampilan individu, ide, minat, dan prestasi." Penilaian portofolio merupakan satu metode penilaian berkesinambungan, dengan mengumpulkan informasi atau data secara sistematik atas hasil pekerjaan seseorang (Pomham, 1984). Seluruh hasil belajar peserta didik (hasil tes, hasil tugas perorangan, hasil praktikum atau hasil pekerjaan rumah) dicatat dan diorganisir secara sistematik.
Fungsi penilaian fortopolio adalah sebagai alat untuk mengetahui kemajuan kompetensi yang telah dicapai peserta didik dan mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, memberikan umpan balik untuk kepentingan perbaikan dan penyempurnaan proses pembelajaran. Kumpulan hasil pekerjaan peserta didik dapat berupa: (1) puisi; (2) karangan; (3) gambar/tulisan; (4) peta/denah; (5) desain; (6) paper; (7) laporan observasi; (8 ) laporan penyelidikan; (9) laporan penelitian; (10) laporan eksperimen; (11) sinopsis;(12) naskah pidato/kotbah; (13) naskah drama;(14) doa; (15) rumus;(16) kartu ucapan; (17) surat; (18 ) komposisi musik; (19) teks lagu; (20) resep masakan.
            Penilaian portofolio sering diibaratkan sebagai satu album photo dari suatu kegiatan yang merekam aktivitas program dan para partisipannya. Portofolio ini juga sering dianggap sebagai suatu ‘showcases’ bagi orang-orang yang tertarik atau memerlukan untuk mendapatkan gambaran mengenai program tersebut. Bagi dunia pendidikan, penilaian portofolio cukup sering digunkan untuk mendokumentasikan kemajuan dan pencapaian masing-masing siswa. Penilaian portofolio jika dilakukan secara benar dan sistematis dapat menjadi alat pengukur praktek, prosedur, dan keluaran yang lebih baik jika dibandingkan alat pengukuran tradisional.
          Tidak semua portofolio merupakan portofolio penilaian. Portofolio juga bisa berisi hasil kerja dan catatan tersendiri dari guru, atau dari seorang profesional, atau bahkan portofolio suatu perusahaan. Portofolio penilaian sendiri memiliki beberapa komponen yang harus ada atau terdapat dalam portofolio tersebut.  Komponen-komponen tersebut antara lain :
·        Merupakan bagian dari komponen hasil mata pelajaran
·        Didasarkan pada hasil keluaran program
·        Mencakup dokumentasi dari semua yang didemonstrasikan siswa dari setiap keluaran
·        Dinilai oleh guru dengan menggunakan rubrik yang umum
 Pada dasarnya ada beberapa tipe portofolio, seperti:
·        Showcase – siswa meletakkan semua contoh terbaik atau produk terbaik yang dihasilkannya dari setiap objektif.
·        Kumulatif – Siswa meletakkan semua pekerjaan yang relevan untuk setiap objektif dalam portofolionya.
·        Proses – Siswa meletakkan pre/post sample dari pekerjaan untuk setiap objektif dalam portofolionya.
            Dalam setiap tipe portofolio harus terdapat komponen dasar sebagai mana tercantum diatas. Beberapa ahli membagi portofolio menjadi dua yaitu Portofolio Proses dan Portofolio Produk. Portofolio proses berisi dokumentasi dari tahapan-tahapan pembelajaran dan catatan kemajuan siswa. Sedangkan Portofolio Produk hanya berisi kumpulan hasil kerja terbaik siswa. Untuk mengetahui proses dan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran, biasanya guru menggunakan portofolio proses, sedangkan untuk mengetahui penguasaan akhir digunakan portofolio produk.
           Ada beberapa kelebihan dari Penilaian Portofolio ( sebagaimana dikutip oleh Julia Scherba dari Venn ) seperti:
·        Menunjukkan evaluasi diri siswa, refleksi, dan pemikiran kritis
·        Mengukur Kinerja dasar berdasarkan contoh original pekerjaan siswa
·        Memberikan fleksibilitas dalam mengukur bagaimana siswa mencapai tujuan
·        Memungkinkan guru dan siswa berbagi tanggung jawab dalam menentukan tujuan belajar  dan untuk evaluasi kemajuan.
  • Memberikan kemungkinan bagi siswa untuk mendapatkan masukkan yang ekstensif dari proses pembelajaran
  • Memfasilitasi pembelajaran kooperatif, termasuk evaluasi ‘peer’ dan tutoring
  • Memungkinkan pembentukan struktur pembelajaran bertahap
  • Memungkinkan guru dan siswa untuk mendiskusikan tujuan pembelajaran dan kemajuan dalam dialog yang terstruktur maupun tidak.
  • Memungkinkan pengukuran kemajuan siswa multi dimensi dengan memasukkan berbagai tipe data dan material.
Bagi seorang guru, penilaian portofolio walaupun sedikit lebih rumit tetapi bisa memiliki banyak kegunaan. Seperti misalnya:
  • Mendorong pembelajaran mandiri
  • Memperjelas pandangan mengenai apa yang dipelajari
  • Membantu mempelajari pembelajaran
  • Mendemonstrasikan kemajuan berdasarkan keluaran yang diidentifikasikan
  • Membuat interseksi antara instruksi dan penilaian
  • Memberikan jalan kepada siswa untuk menilai diri mereka sebagai pemelajar
  • Memberikan kemungkinan untuk pengembangan dukungan ‘peer’
  • Mengetahui bagaiman Portofolio dapat memperbaiki proses persiapan
Dengan demikian penilaian portofolio berbeda dengan penilaian lainnya, penilaian portofolio merupakan rangkuman setiap aktivitas yang membutuhkan pencermatan, keobjektifan dan tranparansi. Penilaian portofolio bukanlah hasil rekaan dan bersumber imajinatif. Hal ini menunjukkan program pembelajaran dalam persiapan evaluasi harus berkelanjutan dari satu kegiatan kepada kegiatan lain guna peningkatan mutu kualitas pendidikan bagi input maupun output di sekolah. Kegiatan tersebut dapat terlembaga secara baik dan profesional baik di lembaga formal maupun non formal. Assesment positif sebagai penilaian hasil evaluasi terhadap program atau proses haruslah diakui oleh masyarakat luas yang menjadi penilai objektif bukan penilaian individualistis.

DAFTAR PUSTAKA


Abdullah . 2009. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Arruz Media.
De Porter, Bobby, dkk. 2007. Quantum Teaching. Bandung: Haifa.
Qualification and Curriculum Agency,QCDA@http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx.
http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam- evaluasi-program-  pembelajaran.html.
Aqib, Zainal dan Elham Rohmanto. 2007. Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah, Jakarta: Yrama Widya.
Rose, Colin. 2002. Accelerated Learning. Bandung: Haifa.
Degeng, Nyoman Sudana & Yusufhadi Miarso. 1993. Buku Pegangan Teknologi Pendidikan,”Terapan Teori Kognitif dalam Disain Pembelajaran”. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen DIKTI, Proyek Pengembangan Pusat Fasilitas Bersama Antar Universitas / IUC (Bank Dunia XVII).
Tilaar, H.A.R. 2006. Standardisasi Pendidikan Nasional,Suatu Tinjauan Kritis, Jakarta: Rineka Cipta.
Qualification and Curriculum Agency,QCDA@http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx
Susanto.  2007, Pengembangan KTSP dengan Perspektif Manajemen Visi. Jakarta: Mata Pena
Syah, Muhibbin.1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Press.
Hart, D. (1994). Authentic Assessment: A Handbook for Educators . Hart, D. (1994). Authentic Assesment: A Handbook for Educators. Menlo Park, CA; Addison-Wesley Pub. Menlo Park, CA; Addison-Wesley Pub. Co. Co.
http://educare.e-fkipunla.net Generated: 4 February, 2010, 07:09
Julia Scherba, Ph.D. University of New Mexico, http://www.unm.edu/~devalenz/index.html.
Meg Sewell, Mary Marczak, & Melanie Horn , THE USE OF PORTFOLIO ASSESSMENT IN EVALUATION , University of Arizona. http://ag.arizona.edu.
Miarso, Yusufhadi. 2007.  Menyemai Benih Teknologi Pendidikan . Kerjasama Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan PUSTEKOM DIKNAS,Cet.ke 3
Prince George County Public School   http://www.pgcps.org/~elc/theory.html.
Qualfication and Curriculum Agency,qcda http://www.qcda.gov.uk/4336.aspx.
http://www.um.pwr.ac.id/web/article/409-optimalisasi-peran-guru-dalam-evaluasi-program- pembelajaran.html.
Santrock, John W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:
            Remadja Rosdakarya.

TUJUAN PEMBELAJARAN FISIKA

Salah satu materi pelajaran atau mata kuliah yang paling dibenci sebagian besar pelajar atau mahasiswa adalah belajar fisika. Bagi siswa atau mahasiswa tidak akan terlepas dari belajar fisika kecuali dia tidak mengambil jurusan eksak. Namun perlu diingat bahwa jurusan eksak merupakan langkah awal untuk memasuki dunia ilmiah. Dunia untuk memahami rahasia alam. Jadi untuk memahami kehidupan dan segala yang berkaitan di dalamnya tidak terlepas dari ilmu fisika.

Bagi sebagian besar masih mungkin bertanya : apa tujuan kita belajar fisika? Pertanyaan tersebut wajar bagi orang pemula yang baru masuk belajar fisika. Perlu diketahui bahwa tujuan kita belajar fisika memang sangat banyak sekali tergantung ke arah mana kita mendalaminya. Karena fisika itu sendiri cukup luas cakupannya. Pertama belajar merupakan suatu upaya untuk tahu, faham dan mengerti dari yang belum tahu. Nah setelah itu kita mungkin mengarah ke sejumlah pilihannya untuk apa sejumlah pengetahuan itu dan cara kerja ilmu fisika itu kita gunakan.
Secara sederhana tujuan kita belajar fisika adalah :
  1. Untuk memahami ilmu fisika sesuai kedalaman mata pelajaran atau mata kuliah.
  2. Untuk bisa berkarya dan berinovasi bagi ilmu fisika seperti melakukan penelitian.
  3. Untuk bisa menerapkan fisika dan mengimplementasikan ke bidang lain.
  4. Untuk menjadi guru fisika atau dosen fisika.
a. Untuk memahami ilmu fisika sesuai kedalaman mata pelajaran atau mata kuliah.
Sebagai pelajar yang mempelajari fisika tentu agar bisa memahami kompetensi yang dimuat dalam standar isi sehingga jika menghadapi ulangan dan ujian akhir mendapat nilai tinggi. Bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah fisika atau yang terkait dengan fisika tentu agar bisa memahami materi yang termuat dalam sistem kredit semester sehingga setelah ujian semester mendapat nilai A atau B.
b. Untuk bisa berkarya dan berinovasi bagi ilmu fisika seperti melakukan penelitian.
Ilmu fisika yang kita pelajari merupa-kan hasil kerja sama para pengembangnya di seluruh dunia. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seorang pecinta fisika boleh menyumbangkan sesuatu bagi ilmu ini. Ada yang menyumbang dalam bentuk penemuan gejala atau peri laku alam baru, ada yang menyumbang gagasan untuk lebih mema-hami keterkaitan antara rangkaian gelaja dan atau perilaku alam yang sudah diketahui, bahkan ada pula yang berspekulasi meramal-kan gejala atau perilaku alam yang baru berdasarkan penalaran lebih lanjut dari gaga-san yang telah teruji kebenarannya.
Berkarya untuk ilmu fisika menuntut kita untuk selalu mengetahui apa saja yang sampai kini sudah disumbangkan oleh para pengembang fisika lainnya, yang berdomisili terserak di seluruh penjuru dunia. Kita harus punya saluran komunikasi yang dapat memberikan informasi mutakhir. Komu-nikasi terbaik tentunya terjadi kalau kita sendiri dapat berada bersama dengan tokoh-tokoh pegembang utama, yang lazimnya bermukim di pusat-pusat pengembangan yang sudah membuktikan keunggulan prestasinya. Komunikasi langsung dengan pengembang fisika memungkinkan kita untuk berdiskusi timbal balik, medengar dari tangan pertama suka duka pergumulan dalam menjelajahi penelitian fisika. Jangan lupa, apa yang muncul di jurnal fisika adalah himpunan sejarah sukses (success story), tidak memuat informasi tentang jalur-jalur penelitian yang sudah cukup lama digarap tetapi tetap buntu.
Kekayaan ilmu fisika saat ini sudah begitu besarnya, sehingga rasanya mustahil bagi seseorang untuk dapat menampung seluruh ilmu itu di dalam benaknya. Seorang pengembang cukup puas dengan hanya mengikuti satu atau beberapa jalur perkembangan fisika. Pada dasarnya, fisika adalah ilmu yang kebenarannya dihakimi oleh pengamatan. Suasana berkarya akan menjadi semarak apabila peralatan yang sanggup mengungkap aspek-aspek fisika yang digarap itu terdapat ditempat yang sama. Dengan kata lain, diperlukan fasilitas dan tenaga yang memudahkan interaksi antara eksperimen dan teori yang dapat digarap ditempat yang sama.
c. Untuk bisa menerapkan fisika dan mengimplementasikan ke bidang lain.
Pengetahuan tentang gejala dan perilaku alam yang dihimpun dalam ilmu fisika telah banyak digunakan untuk mem-bantu profesi lain, seperti profesi di bidang rekayasa, pertanian, dan kedokteran. Fisika sering dimasukkan dalam katagori ilmu dasar. Maksudnya, untuk dapat menjadi dokter, insinyur diperlukan sejumlah penge-tahuan fisika sebagai basis pemahaman ilmu yang berkaitan dengan profesinya. Ilmu yang berkaitan dengan profesi tersebut berkem-bang tarus. Misalnya, ilmu kedokteran telah menerapkan cara pengobatan dengan radiasi, berkas laser digunakan untuk pembedahan. Pengetahuan fisika yang diperlukan untuk menangani hal ini jelas bukan lagi apa yang dulu disebut fisika dasar. Artinya diperlukan tenaga-tenaga yang sudah jauh belajar tentang fisika ilmu fisika.
Keakraban ilmu fisika dengan profesi di bidang rekayasa tentunya jauh lebih dalam lagi. Tengok saja apa yang terjadi setelah prinsip laser ditemukan oleh ilmu fisika beberapa tahun beselang. Produk-produk teknologi baru yang menggunakan laser bermunculan, seperti: alat pemotong baja, pengarah dalam pemetaan, kaset vidio dan audio, printers, dst.
d. Untuk menjadi guru fisika atau dosen fisika.
Guru merupakan penyambung untuk mewariskan ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia memang bukan pembuat ilmu, tetapi ia dituntut untuk tahu benar tentang ilmu yang ingin dipindah tangankan ke generasi muda. Sebab jika tidak, kita khawatir bahwa yang diwariskan adalah hal-hal yang keliru sehingga arti pewarisan itu menjadi tidak bermakna. Di samping memiliki pengetahuan yang benar tentang ilmu fisika, iapun perlu memperlajari teknik komunikasi. Sebaiknya teknik komu-nikasi tidak hanya satu corak, sebab yang belajar fisika adalah orang-orang yang bermacam-macam pembawaannya. Pengem-bangan alternatif teknik komunikasi maru-pakan bagian dari kehidupan profesinya sebagai guru fisika.

KARAKTERISTIK DALAM PEMBELAJARAN FISIKA

Fisika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari zat dan interaksi komponen-komponennya. Sudah dikenal di masyarakat umum bahwa Fisika merupakan salah satu bidang ilmu yang tergolong “keras” atau tidak mudah dipahami. Fisika dianggap sebagai mata pelajaran dengan kumpulan rumus-rumus yang menjerumuskan siswa dengan hafalan yang memusingkan kepala. Anggapan tersebut, didukung oleh fakta bahwa banyak dari siswa memiliki nilai Fisika termasuk yang terendah di antara seluruh mata pelajaran di sekolah sampai perguruan tinggi.
Hal ini sungguh memprihatinkan, karena sains merupakan ilmu dasar yang harus dikuasai terlebih dahulu dalam rangka penguasaan teknologi pada jaman modern ini. Kita lihat saja, setiap perkembangan sebuah teknologi hamper dapat dipastikan didahului oleh penemuan sebuah gejala fisis baik di tataran makro, mikro sampai nano.
Kembali kami ingatkan tentang tujuan pembelajaran Fisika dalam kurikulum pendidikan di negara kita. Di sana disebutkan agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut: 
  1. Membentuk sikap positif terhadap fisika dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, obyektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerjasama dengan orang lain
  3. Mengembangkan pengalaman untuk dapat merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, merancang dan merakit instrumen percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis.
  4. Mengembangkan kemampuan bernalar dalam berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaian masalah baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
  5. Menguasai konsep dan prinsip fisika serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, dan sikap percaya diri sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seorang penulis buku yang bernama Siti Rohmah pernah mengatakan bahwa memahami konsep-konsep dan selanjutnya  memahami prinsip yang menyatakan hubungan antara konsep adalah langkah awal dan sangat penting dalam belajar fisika. Oleh sebab itu, di dalam pembelajaran fisika, unsur kepemahaman atau pengertian jauh lebih dominan daripada unsur hafalan.
Semoga tulisan singkat ini dapat mengingatkan terutama untuk diri saya pribadi mengenai makna dari sebuah pembelajaran Fisika. Selalu berharap agar menjadikan siswa-siswa kita memiliki karakter layaknya seorang fisikawan muda yang mengagungkan kebesaran Tuhannya, bersikap ilmiah, berpikir analisis serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan dan pengalamannya.

KARAKTERISTIK SISWA

A.  Pengertian Karakteristik Peserta Didik
            Menurut Piuas Partanto, Dahlan (1994) Karakteristik berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap.
Menurut Moh. Uzer Usman (1989) Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang serta nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan mudah di perhatikan.
Menurut Sudirman (1990) Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.
Menurut Hamzah. B. Uno (2007) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.
Siswa atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan pendidikan. Anak didik adalah unsur penting dalam kegiatan interaksi edukatif karena sebagai pokok persoalan dalam semua aktifitas pembelajaran (Saiful Bahri Djamarah, 2000)
Menurut kelompok kami karakteristik umum peserta didik ialah karakter/gaya hidup individu secara umum (yang dipengaruhi oleh usia, gender, latar belakang) yang telah dibawa sejak lahir dan dari lingkungan sosialnya untuk menantukan kualitas hidupnya.

B.  Karakteristik Umum Peserta Didik dari Segi Usia
     Fase- Fase Perkembangan Manusia
1.        Permulaan kehidupan (konsepsi)
2.        Fase prenatal (dalam kandungan)
3.        Proses kelahiran (± 0-9 bulan)
4.        Masa bayi/anak balita (± 0-1 tahun)
5.        Masa kanak-kanak (± 1-5 tahun)
6.        Masa anak-anak (± 5-12 tahun)
7.        Masa remaja (± 12-18 tahun)
8.        Masa dewasa awal (± 18-25 tahun)
9.        Masa dewasa (± 25-45)
10.    Masa dewasa akhir (± 45- 55)
11.    Masa akhir kehidupan (± 55 tagu ke atas)
            Pada pembahasan ini, kami hanya membahas materi sejak masa kanak-kanak hingga masa dewasa awal saja sesuai usia pendidikan.
Ada beberapa aspek yang dipengaruhi oleh usia :
1.     Aspek Fisik
·      Secara Anatomis
               Perubahan kuantitatif struktur tulang
               Indeks tinggi dan berat badan
               Proporsi antar bagian
·      Secara Fisiologi
              Pada masa bayi (± 0-1 tahun) tulangnya masih lentur dan berpori, persambungannya masih longgar) dengan BB : 2-4 kg, TB : 50-60 cm
              Masa kanak-kanak, BB : 12-15 kg TB : 90-120 cm
              Masa remaja awal, BB : 30-40 kg TB : 140-160 cm
          Selanjutnya keceptan berangsur menurun bahkan menjadi mapan. Proporsi tinggi kepala, badan bayi dan anak sekita 1:4 menjelang dewasa menjadi 1:8 atau 0.
2.     Aspek Intelektual
Menurut John dan Conrad :
        Laju perkembangan intelegensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja awal, setelah itu kepesatannya langsung menurun.
        Puncak perkembangan pada umumnya dicapai dipenghujung masa remaja akhir (sekitar usia 20-an), selanjutnya perubahan-perubahan masa tipis berlangsung sampai dengan usia 50 tahun. Setelah itu terjadi plateau (mapan)sampai usia 60 tahun untuk selanjutnya berangsur-angsur turun (deklinasi).
        Terdapat variasi dalam waktu dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan tertentu.
3.     Aspek Sosial
        Masa kanak-kanak awal (0-3 tahun) : subjektif
        Masa krisis (3-4 tahun) : trotz alter
        Masa kanak-kanak akhir (4-6 tahun) : subjektif menuju objktif
        Masa anak sekolah (6-12 tahun) : objektif
        Masa kritis II (12-13 tahun) : pre-puber (anak tanggung)
4.     Aspek Psikososial
Menurut Eric Erikson :
        Anak adalah makhluk yang aktif dan penjelajah yang adaptif
        Ego berfungsi untuk memahami realitas dunia sosial
        Secara mendasar manusia adalah makhluk yang rasional, pikiran, perasaan, dan tindakannya sebagian besar dikontrol ole ego
        Prinsip epigenetik
            Delapan tahap perkembangan psikososial :
        Basic trust Vs Mistrust (± sejak lahir – 1 tahun)
        Autonomy Vs Shame Doubt (± 2-3 tahun)
        Initiative Vs Guilt (± 4-5 tahun)
        Industry Vs Inferiority (± 6 tahun – pubertas)
        Identity & Repudiation Vs Identity Diffusion (masa remaja)
        Intimacy % Solidarity Vs Isolation (masa muda)
        Generativity Vs Stagnation & Self Absorption (masa dewasa)
        Integrity Vs Despair (masa tua)
5.     Aspek Perspektif Kognitif
                        Menurut Jean Piaget :
        Suatu fungsi kehidupan yang mendasar yang membantu organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
        Tujuan aktivitas intelektual adalah untuk mencapai keseimbangan.
        Lingkungan adalah suatu tempat yang menarik 7 penuh dengan berbagai rangsangan baru yang tidak segera dapat dipahami anak yang aktif dengan penuh rasa ingin tahu.
        Sutu atribut yang sangat majemuk, yang terdiri dari 3 komponen yang saling berhubungan yaitu isi intelegensi, struktur kognitif, dan fungsi intelektual.
           
            Tingkat perkembangan Kognitif :
        Periode sensori motor (± sejak lahir – 2 tahun)
        Periode praoperasional (± 2-7 tahun)
        Periode operasional konkret (± 7-11 tahun)
        Periode operasional formal (± 11-15 tahun)
Menurut Kurnia (2007) :
            Karakteristik atau kepribadian seseorang dapat berkembang secara bertahap. Berikut ini adalah krakteristik perkembangan pada masa anak samapai masa puber.
·        Krakteristik perkembangan masa anak awal (2-6 tahun)
                        Masa anak awal berlangsung dari usia 2-6 tahun, yaitu setelah anak meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan formal di SD. Tekanan dan harapan sosial untuk mengikuti pendidikan sekolah menyebabkan perubahan perilaku, minat, dan nilai pada diri anak. Pada masa ini, anak sedang dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan. Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, dan sering membantah dan melawan orang tua. Hal ini memang sangat menyulitkan para pendidik. Tak heran, apabila para guru Playgroup sampai SD harus lebih bersabar dalam melangsungkan pembelajaran atau mendidik siswa. Disiplin mulai bisa diterapkan pada anak sehingga anak dapat mulai belajar hidup secara tertib. Dan sikap para pedidik sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
·        Krakteristik perkembangan masa anak akhir (6-12 tahun)
                        Karakteristik atau ciri-ciri periode masa anak akhir, sama halnya dengan ciri-ciri periode masa anak awal dengan memperhatikan sebutan atau label yang digunakan pendidik. Orang tua atau pendidik menyebut masa anak akhir sebagai masa yang menyulitkan karena pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya. Kebanyakan anak pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya. Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak.
·        Krakteristik perkembangan masa puber (11/12 – 14/15 tahun)
            Masa puber adalah suatu periode tumpang tindih antara masa anak akhir dan masa remaja awal. Periode ini terbagi atas tiga tahap, yaitu tahap: prapuber, puber, dan pascapuber. Tahap prapuber bertumpang tindih dengan dua tahun terakhir masa anak akhir. Tahap puber terjadi pada batas antara periode anak dan remaja, di mana ciri kematangan seksual semakin jelas (haid dan mimpi basah). Tahap pascapuber bertumpang tindih dengan dua tahun pertama masa remaja. Waktu masa puber relatif singkat (2-4 tahun) ini terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat dan mencolok dalam proporsi tubuh, sehingga menimbulkan keraguan dan perasaan tidak aman pada anak puber. Peubahan fisik dan sikap puber ini berakibat pula pada menurunnya prestasi belajar, permasalahan yang terkait dengan penerimaan konsep diri, serta persoalan dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya. Orang dewasa maupun pendidik perlu memahami sikap perilaku anak puber yang kadang menaik diri, emosional, perilaku negative dan lain-lain, serta membantunya agar anak dapat menerima peran seks dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang atau masyarakat di sekitarnya.
C.  Karakteristik Umum Peserta Didik dari Segi Gender
     Bebrapa para ahli mengatakan bahwa perbedaan gender dalam kaitannya dengan kognisi dan prestasi mungkin bersifat situasional. Perbedaan itu bervariasi menurut waktu dan tempat (Biklen &Pollard, 2001) dan mungkin berinteraksi dengan ras dan kelas sosial (Pollard, 1998). Penulis Boys and Girls Learn Differently mengatakan bahwa perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan memang ada akibat perbedaan dalam otak mereka.
·         Perbedaan Anak Perempuan dengan Anak Laki-Laki
            Menurut Diane (1995, 1996), ada beberapa perbedaan anak perempuan dan anak laki-laki, anak perempuan menunjukkan kinerja yang lebih baik di bidang seni bahasa, pemahaman bacaan, dan komunikasi tertulis dan lisan. Sedangkan anak laki-laki terlihat sedikit unggul di bidang matematika dan penalaran matematis.
Menurut Ormrod (2000) :
Fitur
Anak Perempuan
Anak Laki-Laki
Implikasi untuk Pendidikan
Kemampuan Kognitif
Lebih baik dalam tugas-tugas verbal
Lebih baik dalam keterampilan visual-spasial
Berharap anak laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan kognitif yang sama
Fisik
Sebelum pubertas kapabilitasnya sama
Setelah pubertas, lebih unggul dalam hal tinggi badan dan kekuatan otot
Mengasusmsikan kedua gender memiliki potendi untuk mengembangkan berbagai keterampilan fisik dan motorik
Motivasi
Peduli pada prestasi sekolah, tetapi kurang berani mengambil resiko
Usaha yang besar di subjek-subjek “stereotipikal laki-laki”
Mendorong kedua gender unggul disemua subjek. Menghindari stereotip
Self-Esteem
Cenderung melihat diriny sendiri lebih kompeten di bidang hubungan interpersonal
Lebih memiliki rasa percaya diri untuk mrngrndalikan dan mengatasi masalah.
Lebih menilai kinerjanya sendiri secara positif
Menunjukkan kepada semua siswa bahwa mereka bisa berhasil di bidang-bidang yang kontrastereotip
Aspirasi Karier
Cenderung melihat dirinya lebih collage-bound.
Cenderung melihat karier  yang tidak akan mengganggu peran mereka di masa depan.
Memiliki ekspektasi jangka panjang yang lebih tinggi untuk dirinya sendiri
Menunjukkan otang-orang yang sukses dalam karier di semua bidang sekaligus dalam keluarga
Hubungan Interpersonal
Cenderung lebih afiliatif dan lebih banyak membentuk hubungan dekat.
Nyaman berada di situasi yang kompetitif dan menyukai lingkungan yang kooperatif
Cenderung menunjukkan agresi fisik yang lebih tinggi
Mengajari kedua gender cara-cara berinteraksi dengan baik dan memeberikan lingkungan yang kooperatif untuk mengakomodasi kecenderungan afiliatif anak perempuan.

D.Karakteristik Umum Peserta Didik dari Segi Latar Belakang
·         Budaya, Etnis, Ras
            Budaya mengacu pada bagaimana anggota-anggota suatu kelompok memikirkan tentang tidakan sosial dan resolusi masalah. Sedangkan etnis mengacu pada kelompok-kelompok yang memiliki warisan budaya yang sama. Ras mengacu pada kelompok-kelompok yang memiliki cciri-ciri sifat biologis yang sama.
            Budaya menggambarkan istilah way of life kelompok secara keseluruhan termasuk sejarah, tradisi, sikap dan nilai-nilai. Budaya adalah bagiamana anggota-anggota suatu kelompok berpikir dan cara yang mereka lakukan untuk mengatasi masalah dalam kehidupan kolektif. Budaya adalah sesuatu yang dipelajari dan selalu berubah, tidak pernah statis.
            Etnis mengacu pada kelompok yang memiliki bahasa dan identitas yang sama. Misalnya orang-orang yang memiliki suku yang sama, keturunan jawa, padang, melayu, batak, dll meskipun dalam satu kebangsaan Indonesia. Ras adalah istilah yang diberikan kepada kelompok-kelompok yang memilki ciri-ciri biologis yang sama.
            Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang beragam budaya, etnis dan ras, dengan demikian terjadilah proses akulturasi antar siswa. Untuk menangani siswa yang beragam guru harus mengembangkan kondisi kelas dengan strategi pembelajaran yang dapat merespon beragam kebutuhan siswa, terlepas dari latar belakang rasial atau etniknya dan memastikan bahwa kurikulumnya adil dan relean secara kultural. Guru harus peka terhadap dasar perbedaan budaya yang dapat mempengaruhi siswa dikelas.
·         Perbedaan Kelas Sosial
            Beberapa karakteristik yang menentukan identifikasi kelas sosial seseorang adalah : pekerjaan, penghasilan, kekuasaan politis, dll. Hal ini mempengaruhi proses belajar siswa. Ada beberapa contoh efek dari perbedaan kelas sosial yaitu, pengelompokkan berdasarkan kelas sosial, ini cenderung akan mempengaruhi psikis siswa yang kelas sosialnya rendah. Sehingga dapat terjadi perbedaan prestasi antara kelas sosial tingga dengan kelas sosial rendah. Namun The Culture of Education (1996)menunjukkan bagaimana belajar bersifat sosial dan bagaimana intelegensi tumbuh selama orang saling berinteraksi di masyarakat.


E.  Implikasi Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
·         Faktor Fisik
                        Dalam penyelenggaraan pendidikan, perlu diperhatikn sarana dan prasarana yang ada jangan sampai menimbulkan gangguan pada peserta didik. Misalnya: tempat didik yang kurang seuai, ruangan yang gelap dan terlalu sempit yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Disamping itu juga perlu diperhatikan waktu istirahat yang cukup. Penting juga untuk menjaga supaya fisik tetap sehat adanya jam-jam olah raga bagi peserta didik di luar jam pelajaran. Misalnya: melalui kegiatan ekstra kurikuler kelompok olah raga, bela diri, dan sejenisnya.
·         Faktor Psikososial
            Perkembangan emosi peserta didik sengat erat kaitannya dengan faktor-faktor: perubahan jasmani, perubahan dalam hubungannya dengan orang tua, perubahan dalam hubungannya dalam teman-teman, perubahan pandangan luar (dunia luar) dan perubahan dalam hubungannya dengan sekolah. Oleh karena itu perbedaan individual dalam perkembangan emosi sangat dimungkinkan terjadi, bahkan diramalkan pasti dapat terjadi.
            Dalam rangka menghadapi luapan emosi remaja, sebaiknya ditangani dengan sikap yang tenang dan santai. Orang tua dan pendidik harus bersikap tenang, bersuasana hati baik dan penuh pengertian. Orang tua dan pendidik sedapat mungkin tidak memperlihatkan kegelisahannya maupun ikut terbawa emosinya dalam menghadapi emosi remaja.
            Dengan singkat dapat dikatakan bahwa untuk mengurangi luapan emosi peserta didik perlu dihindari larangan yang tidak terlalu penting. Mengurangi pembatasan dan tututan terhadap remaja harus disesuaikan dengan kemampuan mereka. Sebaiknya memberi tugas yang dapat diselesaikan dan jangan memberi tugas dan peraturan yang tidak mungkin di lakukan.


·         Faktor Sosial-Kulture
            Usia remaja adalah usia yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, baik fisik maupun psikisnya. Menganggap dirinya bukan anak-anak lagi, tetapi sekelilingnya menganggap mereka belum dewasa. Dengan beberapa problem yang dialaminya pada masa ini, akibatnya mereka melepaskan diri dari orang tau dan mengarahkan perhatiannya pada lingkuan di luar keluarganya untuk bergabung dengan teman sekebudayaannya, guru dan sebagainya. Lingkungan teman memgang peranan dalam kehidupan remaja.
            Selanjutnya sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang diserahi tugas untuk mendidik, tidak kecil peranannya dalam rangka mengembangkan hubungan sosial peserta didik. Jika dalam hal ini guru tetap berpegang sebagai tokoh intelektual dan tokoh otoritas yang memegang kekuasaan penuh sepeerti ketika anak-anak belum menginjak remaja, maka sikap sosial atau hubungan sosial anak akan sulit untuk dikembangkan.

Daftar Pustaka
·          Modul Psikologi Perkembangan, Universitas Negeri Jakarta, 2004
·         Richard I. Arends, Learning To Teach, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008 
http://www.scribd.com/doc/86538676/Karakteristik-Peserta-Didik-Dalam-Proses-Pembelajaran

PRINSIP KERJA DAN PENERAPAN FISIKA DALAM SISTEM AC

 Assalamualaikum, Selamat Datang di Blog saya Setelah sekian lama tidak menuliskan sesuatu yang bermanfaat di sini izinkan saya berbagi...